• Rabu, 5 Oktober 2022

Anak Muda Papua Ini Menilai, Langkah Pemerintah Melakukan Penyesuaian Harga BBM Sudah Tepat

- Senin, 19 September 2022 | 10:44 WIB
Tokoh Pemuda berasal dari Serui Papua, Steve R. Mara (Steve R. Mara)
Tokoh Pemuda berasal dari Serui Papua, Steve R. Mara (Steve R. Mara)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA) - Pemerintah secara resmi telah mengumumkan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite, Solar dan Pertamax. Hal itu telah diumumkan Presiden Republik Indonesia secara resmi pada hari sabtu pukul 14.30 WIB, 03 September 2022 lalu.

Adapun penyesuaian harga BBM terbaru yang berlaku adalah Pertalite yang awalnya dijual dengan harga Rp. 7.650 per liter saat ini menjadi Rp. 10.000 per liter, Solar yang sebelumnya Rp.5.150 per liter menjadi Rp. 6.800 per liter dan harga pertamax dari Rp. 12.500 per liter menjadi 14.500 perliter.

Salah satu alasan penyesuaian harga BBM adalah pemerintah mengalihkan penggunaan dana subsidi BBM ke penggunaan dana yang tepat sasaran.

Menanggapi hal itu, Steve Mara Tokoh Muda Papua menilai penyesuaian harga BBM ini dilakukan pemerintah adalah bentuk mengalihkan penggunaan dana yang selama ini digunakan pemerintah untuk subsidi BBM, dana tersebut dialihkan untuk memberikan bantuan langsung tunai kepada masyarakat yang diprioritaskan untuk menerima bantuan.

Ilustrasi bahan bakar minyak (BBM) (Steve R. Mara)

Hal ini dilakukan pemerintah untuk memenuhi sila ke. 5 dalam Pancasila yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kenapa pemerintah harus adil? Karena jelas subsidi harus dihapuskan. Selama ini dalam pengamatan saya, Subsidi yang diberikan oleh pemerintah untuk meringankan beban masyarakat kecil di Indonesia malah dinikmati oleh masyarakat dengan kemampuan diatas rata-rata.

  1. Kita bisa hitung berapa banyak masyarakat Indonesia yang menggunakan motor dan mobil. Pengguna motor di Indonesia lebih banyak ketimbang mobil, namun pengisian BBM lebih banyak itu kepada kendaraan mobil. Artinya orang dengan kemampuan diatas rata-rata yang menggunakan mobil lebih banyak menikmati subsidi yang diperuntukan untuk masyarakat kurang mampu.
  2. Perbandingan lainnya adalah penggunaan BBM untuk usaha. Perusahaan dengan skala besar membutuhkan ribuan liter BBM setiap harinya dibandingan dengan usaha kecil. Artinya perusahaan besar dapat disebutkan sedang menikmati bahan bakar subsidi yang diperuntukan untuk masyarakat tidak mampu.

Sehingga kita harus setuju agar pemerintah menghapuskan subsidi untuk bahan bakar dan menggantinya dengan memberikan bantuan langsung tunai kepada masyarakat tidak mampu agar penggunaanya bisa tepat sasaran.

Selain itu, jika kita lihat Subsidi yang diberikan oleh pemerintah setiap tahun mengalami kenaikan dan beban ditanggung oleh APBN kita, seperti BBM jenis Solar harga lama Rp. 5.150 harga baru Rp. 6.800 sedangkan angka keekonomiannya adalah  Rp. 13.950. Pertalite harga lama Rp.7.650 harga baru Rp. 10.000 sedangkan berdasarkan nilai keekonomiannya adalah Rp.14.450. jadi tetap ada selisih dan pemerintah masih menanggung subsidi dari harga baru.

Dari sisi lain, kita dapat lihat saat ini nilai tukar rupiah melemah ada dikisaran Rp. 14.833 per Dolar dan harga minyak dunia yang terus mengalami penyesuaian dengan rata USD 97 per barel maka subsidi akan tetap melonjak. Subsidi yang awalnya ada dikisaran Rp. 152 Triliun saat ini melonjak hingga Rp. 502 Triliun bahkan kata Menteri keuangan Subsidi akan naik hingga Rp. 653 Triliun.

Halaman:

Editor: Eveerth Joumilena

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X