• Selasa, 29 November 2022

Ulasan Penyebaran Masyarakat Adat dan Budaya Masyarakat Sentani Barat

- Minggu, 25 September 2022 | 16:18 WIB
Potret Kampung Yakonde, Wilayah Sentani Barat  (Vihky/Lintas Papua)
Potret Kampung Yakonde, Wilayah Sentani Barat (Vihky/Lintas Papua)

SENTANI (LINTAS PAPUA) - Menjelang Kongres Masyarakat Adat ( KMAN ) ke VI, yang akan berlangsung sarasehannya di tiga wilayah adat di pesisir danau Sentani atau dalam bahasa lokal disebut Buhyakha, yang terbagi dalam tiga bagian yaitu, Sentani Timur ( Ralibhu ), Sentani Tengah ( Nollobhu ) dan Sentani Barat ( Waibhu ), sebelumnya kita harus mengenal sedikit tentang beberapa wilayah itu.

Kali ini kita akan mengenal sedikit uraian tentang penyebaran budaya dan penduduk di wilayah Sentani Barat ( Waibhu ), berdasarkan catatan dari Bidang Kebudayaan Kabupaten Jayapura yang disampaikan oleh Kepala Bidang Kebudayaan Kabupaten Jayapura, Elvis Sebastian Kabey. 

Wilayah danau Sentani bagian barat disebut dengan Waibhu memiliki pulau induk yang disebut Yonokhong, pulau ini sering kita dengar dengan sebutan pulau Kwadewar.

Pulau dan kampung ini merupakan pusat penyebaran budaya dan penduduk di wilayah Waibu. 

Terdapat pulau dataran rendah yang berukuran 100x40 meter diseblah Timur merupakan pulau wisata sejarah yang sangat erat kaitannya dengan asal usul penghuni awal dipulau ini. 

Disebla Selatan pulau Kwadewar terdapat kampung Dondai yang posisinya berada didaratan berjejer dari Timur ke Barat. Beralih ke daratan seblah Utara terdapat kampung Doyo Lama yang sibebut dgn istilah lokal Dougo, kemudian lebih ke daratan arah kaki gunung Robongholo juga terdapat kampung Bambar kemudian kembali ke pinggir danau Sentani secara berurutan terdapat kampung Sosiri dan kampung Yakonde. 

Kampung-kampung ini memiliki hubungan kekerabatan dan karena itu orang-orang diwilayah ini bersatu dalam satu komunitas yang disebut Konfederasi Kheleybhulu-Aloway. Sama seperti kedua konfederasi diwilayah Ralibhu dan Nolobhu semua dibentuk untuk menjaga tatanan adat dan eksistensi kekerabatan. 

Arsitektur wilayah pemukiman dan bangunan rumah hampir sama diseluruh wilayah Bhuyakha. Kehidupan sehari-hari tergantung pafa hasil sumber daya alam hayati yang terdapat dalam danau seperti ikan, kerang dan penggumaan air danau. 

Di hutan sekitaran terdapat sagu, sayur-sayuran, buah-buahan dan hewan buruan merupakan sumber utama bagi berkembangbiaknya keturunan dan tatanan adat yang erat kaitan dengan kearifan lokal.(Vihky/lintaspapua.com)

Halaman:

Editor: Eveerth Joumilena

Sumber: Vihky

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X