• Sabtu, 1 Oktober 2022

Yakenpa dan UNICEF Sosialiasasi Tentang Pelayanan Terpadu Kepada Anak

E J
- Minggu, 28 Agustus 2022 | 14:46 WIB
WhatsApp Image 2022-08-28 at 11.09.52
WhatsApp Image 2022-08-28 at 11.09.52

JAYAPURA (LINTAS PAPUA) - Yayasan Noken Papua (Yakenpa) bermitra dengan UNICEF melakukan sosialisasi tentang pelayanan terpadu kepada anak untuk masyarakat umum di Provinsi Papua.

Sosialisasi tersebut disiarkan melalui talkshow di Radio Bahana Sangkakala 92,5 FM, Kampung Buton Skyland, Jayapura, Sabtu (27/8/2022) dengan menghadirkan dua narasumber Direktur LBH APIK Jayapura, Nur Aida Duwila, S.H dan Forum Anak Provinsi Papua, Arif, dengan thema 'Indonesia Pulih, Anak Papua Terlindungi'.

Tujuan sosialisasi tersebut adalah untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat umum termasuk anak yang ada di Provinsi Papua terkait pencegahan dan penanganan kasus kekerasan terhadap anak, termasuk dari sisi adat dan agama.

Dalam talkshow tersebut, Direktur LBH APIK Jayapura, Nur Aida Duwila, S.H
Nur Aida Duwila mengatakan bahwa kekerasan terhadap anak yang selama ini dianggap tabu, tidak tersampaikan keinginannya, hari ini harus dibicarakan karena anak harus dilindungi.

"Apabila terrjadi kekerasan terhadap anak ada pihak kepolisian, Lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak Provinsi Papua (LP3AP), Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPT PPA) Provinsi yang bisa ditemui untuk diminta bantuan," katanya.

Nur tegaskan, berbicara tentang kekerasan terhadap anak orang tua harus sigap, apa yang anak butuhkan, proses hukum ataupun pemulihan psikologis sosial. Semua itu harus dipikirkan sejak awal, tidak boleh terlambat.

"Berbicara anak sebagai korban, kalo tidak terjadi pemulihan psiko sosialnya, hidupnya akan terpuruk, itu yang harus ditanamkan oleh orang tua. Bagaimana kalau hidup anak terpuruk? Sedangkan anak adalah generasi emas kita yang akan menggantikan kita. Ini menjadi PR buat kita adalah bagaimana kita melindungi anak sejak awal," tegas Nur.

Ia juga tekankan agar jangan menjadikan anak sebagai objek dimana ketika orang tua marah, anak menjadi pelampiasan. "Minimal anak diajak bercerita, bercerita seolah olah dia menjadi teman kita, ingat bahwa anak itu titipan Tuhan yang harus dijaga agar dia menggantikan kita mental dia lebih baik dari kita hari ini. Anak dan perempuan bukan objek melainkan subject," tukasnya.

Dikesempatan yang sama, Forum Anak Provinsi Papua, Arif, mewakili seluruh anak dimanapun, mengatakan bahwa anak memiliki hak untuk hidup nyaman, anak memiliki hak untuk hidup sebagai anak dilingkungan yang baik.

"Dari kegiatan ini saya mengetahui banyak lembaga yang menjadi pelindung, menjadi pahlawan setelah org tua, saya berharap untuk seluruh anak dimanapun itu, kalian harus tau bahwa kalian layak untuk terlindungi, layak hidup nyaman ayo sama sama menyuarakan hak anak, karena kita anak pantas untuk mendapatkan hidup yang nyaman," ujarnya.

Ia mengajak para anak-anak untuk selalu berterus terang dan terbuka untuk menceritakan kepada orang tua atau teman yang dipercaya apabila mengalami kekerasan baik itu secara verbal maupun fisik. "Jangan takut untuk bersuara banyak lembaga lembaga yang akan melindungi ketika kalian mempunyai masalah seperti masalah keluarga, kekerasan seksual dilingkungan keluarga dilingkungan manapun itu. Mari sama sama mendukung hak hak anak bahwa anak layak hidup nyaman dan damai," tutup Arif. (Ayu Ohee / lintaspapua.com)

Editor: E J

Terkini

X