Sebuah Diskusi Publik, Melihat Pentingnya Pendidikan Papua di Mata Samuel Tabuni

- Rabu, 30 November 2022 | 16:38 WIB
Suasana Diskusi bersama Samuel Tabuni.
Suasana Diskusi bersama Samuel Tabuni.

JAYAPURA (LINTAS PAPUA)  -  Bertempat di Aula Susteran Maranatha Waena, Lembaga Riset Ekonomi Politik (LEMPAR) Papua dan Peace Literacy Institute Indonesia di Papua menggagas sebuah diskusi publik yang diperuntukkan bagi para mahasiswa, pemuda dan aktivis gereja, termasuk pegiat literasi di Jayapura.

Diskusi publik ini mengangkat tema “Pendidikan Papua di Mata Samuel Tabuni.” Oleh panitia, diskusi yang berlangsung selama kurang lebih satu setengah jam ini, memang difokuskan pada pendalaman pemikiran dan pandangan Samuel Tabuni sebagai seorang tokoh muda/milenial Papua yang telah melakukan beberapa terobosan dalam dunia pendidikan di Papua melalui Papua Language Institute (PLI) dan International University of Papua (IUP).

Di dalam diskusi publik ini terdapat beberapa pemikiran yang dikemukakan oleh Samuel Tabuni berkaitan dengan tantangan pendidikan di Papua yang telah ia amati secara konsisten dalam kurun waktu 15 tahun terkahir.

Menurutnya sumber daya manusia Papua khususnya OAP yang tertinggal ini bukan karena keinginannya menjadi tertinggal atau terbelakang melainkan karena menyerah berhadapan dengan kendisi real pendidikan di akar rumput khususnya di pelosok yang memprihatinkan.

 

”Kita bisa lihat, hampir di setiap distrik pasti terdapat fasilitas pendidikan penunjang untuk Sekolah Dasar. Sementara itu untuk SMP/SLTP tidak di setiap distrik ada, bahkan gabungan empat atau lima distrik baru ada satu SMP/SLTP. Belum lagi SMA/SLTA kebanyakan hanya ada di ibu kota kabupaten," tuturnya.

"Kalau mau jujur melihat, anak-anak kita yang lahir di pedalaman mungkin mereka bisa sekolah SD, katakanlah yang lulus kelas VI ada 15 anak. 15 anak ini kalau mau lanjut sekolah di SMP, maka mereka harus rela berjalan kaki berkilo-kilo meter jauhnya di jalan yang rusak pula. Belum tentu 15 itu bertahan hingga lulus SMP, katakanlah yg lulus 10 orang anak bertahan hingga lulus SMP, 10 orang ini belum tentu punya kesempatan melanjutkan pendidikan ke SMA, jadi mungkin hanya 5 orang berhasil lanjut ke SMA. Ada orangtua yang berjuang mati-matian mengirimkan anaknya ke kota untuk sekolah di SMA," ucapnya.

"Tapi bagi anak-anak yang iba dan sadar akan kondisi ekonomi orangtuanya, kadang harus rela memilih untuk tetap di kampung membantu orangtuanya di kebun atau berburu. Inilah kenyataannya, bagi anak-anak OAP yang lahir di pedalaman, untuk sekolah saja perjuangannya mati-matian. Berjuang karena jarak tempuh ke sekolah yang jauh, berjuang karena keterbatasan fasilitas pendidikan yang memadai, berjuang karena dididik oleh guru yang terbatas, berjuang karena kondisi ekonomi orangtua yang tidak sepenuhnya dapat menunjang kebutuhan anak-anak kita di sekolah,” ujar Samuel Tabuni.

 

Halaman:

Editor: Fransisca Kusuma

Artikel Terkait

Terkini

Polisi Musnhakan 423 Liter Milo

Senin, 6 Februari 2023 | 19:54 WIB

11 Tim Ramaikan Lomba Tari Yospan

Senin, 6 Februari 2023 | 19:42 WIB

59 Persen Guru di Papua Selatan Belum Tersertifikasi

Senin, 6 Februari 2023 | 18:37 WIB

GKIP Klasis Yatamo Tage Sukses Gelar Rakersis Ke-I.

Jumat, 3 Februari 2023 | 08:35 WIB
X