Sarasehan KMAN VI di Kampung Homfolo, Peran Masyarakat Adat Dalam Program Energi Terbarukan

- Rabu, 26 Oktober 2022 | 13:31 WIB
 Suana Sarasehan Sedang Berlangsung di Kampung Homfolo (Viktor Done  / lintaspapua.com)
Suana Sarasehan Sedang Berlangsung di Kampung Homfolo (Viktor Done / lintaspapua.com)


SENTANI (LINTAS PAPUA)  - Sarasehan KMAN VI di Kampung Homfolo pada 25 Oktober 2022, berlangsung sangat menarik, dengan apa yang disampaikan oleh Pemateri membuat para peserta sarasehan memahami bagaimana peran mereka Masyarakat adat dalam program Energi Terbarukan yang dilakukan oleh pemerintah.

Topik yang di angkat pada Sarasehan di Kampung Homfolo yaitu, "Masyarakat Adat dan Transisi Energi Berkeadilan" berupaya untuk mengupas evolusi konsep transisi energi di ranah global dalam kerangka keadilan iklim dan upaya untuk menahan kenaikan rata-rata suhu dunia di bawah 1,5 derajat, serta-serta prinsip kesetaraan dan keadilan yang sudah mulai didorong oleh komunitas masyarakat adat global untuk memastikan terwujudnya "Just Energy Transition" atau Transisi Energi Berkeadilan.

Selain itu, sarasehan ini juga bertujuan untuk mengupas kerangka kebijakan transisi energi nasional serta menganalisis potensi friksi dan gesekan dengan hak masyarakat adat atas lahan dan penghidupan.

Birry Pemateri pada Sarasehan dari Trend Asia. (Official KMAN VI 2022)

Harapannya, informasi dan analisis yang disampaikan dapat menjadi landasan advokasi masyarakat adat dalam konteks mendorong transisi energi berkeadilan, baik di tingkat nasional maupun di tingkat tapak atau lahan masyarakat adat.

Peserta pun sangat antusias disaat sesi diskusi, banyak hal yang disampaikan, mereka saling bertanya, memberikan masukan bahkan solusi, dari sekian banyak peserta yang hadir di hari pertama sarasehan tersebut mereka lebih condong kepada peran Pemerintah dalam mengakui keberadaan masyarakat adat, agar jangan ada pihak Investor yang dengan liciknya mempermainkan hak masyarakat adat.

Sebagai manusia tentunya membutuhkan energi, tetapi harus berkeadilan, apalagi kepada masyarakat pribumi atau masyarakat adat yang memiliki hak sesungguhnya pada lahan yang dibangun program energi terbarukan, ada dampak positif dan negatif, bagi masyarakat adat, mereka lebih cenderung mendapatkan hal negatif apalagi berhadapan dengan negara yang mempunyai kekuatan bersenjata lengkap dengan undang-undang yang sah di negara ini.

Hal tersebut dibenarkan oleh, Birry, dari " Trend Asia salah organisasi advokasi yang mengampanyekan energi bersih. Baginya solusinya masyarakat adat harus bersama-sama bergerak mengawal perjuangan 12 tahun Rancang Undang - undang Masyarakat Adat karena itulah pondasi yang kuat bagi perlindungan hak - hak masyarakat adat.

Supeno, Peserta Sarasehan KMAN VI asal Masyarakat Adat Bromo Tengger. (Official KMAN VI 2022)

Halaman:

Editor: Eveerth Joumilena

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Suasana Perayaan Natal di Paroki Bilogai Intan Jaya

Sabtu, 31 Desember 2022 | 18:27 WIB
X